bisnis PTC INDONESIA

Iklan kami

Cari disini

Malin Kundang

……………Si Malin Kundang…………….

Konon pada zaman dulu tinggallah seorang janda bersama anak laki-lakinya di tepi pantai di Sumatra Barat. Anak itu bernama Malin Kundang. Ia cerdas ,pandai bergaul, rendah hati, dan di senangi teman sebayanya.

Tiap hari ibunya menjajakan kue di kampung-kampung sepanjang pantai.

Suatu hari ibu yang tua renta itu jatuh sakit. Malin Kundanglah yang mengambil alih tugas ibunya. Dia menjajakan kue dari satu kampong ke kampong lain. Tak ketinggalan para nelayanpun di pantai pun ia kunjungi. Namun, tak ada yang mau membeli kuenya.

Mlin Kundang jadi teringat ibunya yang sedang sakit. Pikirannya menjadi kacau dan badan terasa lemah lunglai. Ia pun jatuh pingsan di depan pagar sebuah rumah besar.

Rumah itu dihuni saudagar kaya dengan anaknya bernama Umi.

Melihat Malin Kundang pingsan,Ayah Umi menyuruh pelayannya untuk mengangkat Malin Kundang ke dalam rumah. Setelah Siuman, Malin Kundang diberi makan dan minum.

Malin Kundang kemudian mohon diri dan mengucapkan terima kasih.Namun ayah Umi mencegat di pintu pagar lalu Ia menanyakan tentang kehidupan Malin Kundang dengan ibunya.

Setelah mengetahui hal ikhwal Malin Kundang, ayah Umi mengajak bekerja di kapal miliknya.

Bertahun-tahun Malin Kundang bekerja di kapal dagang besar itu.Ternyata ia terampil, ulet, dan cerdas. Akhirnya ayah Umi memberikan jabatan yang tinggi kepada Malin Kundang.

Suatu hari kapal Malin Kundang berlabuh di pantai dekat kampungnya.

Keberhasilan Malin Kundang menjadi buah bibir orang-orang di kampungnya, terutama teman sepermainannya.Tapi, tak sedikit teman-temannya yang mengatakan bahwa Malin sekarang sombong.

Kabar itupun sampai ke telinga Ibunya .Ibu Malin Kundang mengambil langkah seribu menuju daerah pantai, tempat berlabuh kapal Malin Kundang.

Hatinya berbunga-bunga karena dapat bertemu lagi dengan anaknya yang sudah sekian lama tak berjumpa. Namun , Si Malin Kundang tidak mau mengakui ibunya . Ibunya dihina dan di usir karena terlihat seperti pengemis tua.

Istrinya menyuruh Malin Kundang untuk mengakui ibunya, tetapi Malin tidak mau. Ibunya mundur beberapa langkah lalu berdoa, “Ya Tuhan, ampuni dan sadarkan ia”

Melihat ibunya masih berada dalam kapalnya, Malin Kundang semakin marah dan mengusir ibunya. “Hai, perempuan hina, cepatlah menyingkir dari sini. Aku muak melihat mu. Pergi, pergi cepat dari sini!” sambil menyeret ibunya keluar dari kapalnya.

Kemudian Malin Kundang menyuruh awak kapalnya berlayar meninggalkan daerah itu. Ibunya sedih dan meratap ia lalu menengadah mengangkat ke dua tangannya dan berdoa, “aku tidak mau mempunyai anak durhaka. Lebih baik akhiri saja hidupnya agar tidak bertambah dosanya.”

Tiba-tiba langit mendung. Halilintar menggelegar. Angina topan bertiup kencang. Kapal malin kundang di hantam badai, terbelah, dan hancur. Ibu Malin Kundang tidak tega melihat keadaan itu lalu berdoa lagi,” Ya Tuhan selamatkan anakku. Lebih baik engkau jadikan ia batu.” akhirya gelombang laut mementalkan badan malin kundang yang hangus ke pantai. Tubuh Malin Kundang pun menjadi batu. Tuhan telah mengukum anak durhaka itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

info menarik